Janji
Saudara Serigala dengan Sang Putri
Hujan
deras membasahi pulau Andromeda disusul dengan gemuruh petir yang
bersahut-sahutan, terpaan ombak begitu besar hingga melamun kayu-kayu di
pesisir. Malam yang penuh dengan kekhawatiran di sebuah kerajaan yang berdiri
gagah di pesisir pulau Andromeda. Ratu Qonsie sedang melahirkan anak yang sudah
ia kandung dengan susah payah 10 bulan lamanya. Namun, di suituasi genting
seperti ini, Raja Esa Tri Akil tidak ditemukan di seisi istana dan kerajaan.
Putri
Arin sedang merenungi kesalahan yang baru saja ia perbuat di kerajaan. Ia duduk
diatas rerumputan taman kerajaan dengan menekukkan kedua kakinya. Kulit kucing
si hutam Putpus ibundanya(Ratu Qonsie) melepuh, siapa lagi jika bukan karena
Putri Arin telah berulah kembali.
Putri
kecil berumur 9 tahun itu sedang memegang segelas susu panas ketika bermain
bersama Putpus, kucing kesayangan ibundanya. Putri Arin gemas dengan buntut si
hitam Putpus dan menekan buntut tersebut dalam genggamannya dengan sekuat
tenaga, secara spontan Putpus marah dan meloncat ke arah Putri Arin hingga
segelas susu panas terlepas dari genggamannya dan membasahi si Putpus. Kulit
Putpus melepuh dan menyisakan ruam-ruam merah dan sisi lain pipi putih mulus
putri Arin memiliki corak cakaran si Putpus. Habis sudah pertemanan baik antara
Putri Arin dan si Hitam Putpus yang telah melepuh kulitnya serta tak luput
semburan ocehan ibundanya akan Putri Arin terima tidak lama lagi.
Diocehin
ibu lagi, diocehin ibu lagi… Putri Arin
mengumpat di dalam hatinya. Mengapa setiap tindakanku selalu salah? Aku
memang anak sial. Ayahanda tak pernah mau mendengarkan aduhan tangisanku, harus
kepada siapa kutumpahkan kesedihanku ini?... Ujar kesedihan Putri Arin di
dalam hatinya.
Putri Arin
berjalan lemas tanpa semangat di sepanjang pelataran kerajaan. Dbuk!
Putri Arin terjatuh bersama seorang anak lelaki sepantran Putri Arin sedikit
lebih tua dibandingnya. “Kau tak mengapa tuan putri ?” tanya lelaki itu. Namun
Putri Arin tetap diam tak menjawab lelaki tak dikenal di hadapannya.
“Maafkan aku tuan putri,
saya Fisabil putra pelayan di kerajaan ini. Jika tuan putri berkenan saya akan
urusi luka lecet tuan putri.” Ujar lelaki itu kembali. “cih lecet kau
bilang? Ini tak ada apa-apanya bagiku.” (ujar Putri Arin yang sedang sedih
dengan hidupnya di dalam hati.)
“baiklah kalau seperti itu tuan putri. Sa- saya undur diri.” Ujar
lelaki itu kembali untuk yang ketiga kalinya atas Tuan Putri Arin yang terus
diam.
Malam
ini udara yang masuk melalui jendela kamar Putri Arin sangat menusuk kulit
Putri Arin. Putri Arin memandang ke arah bulan sabit yang sedang tersenyum
indah kepadanya dengan mata yang sendu. “Andai aku menjadi sepertimu saja
bulan, aku tidak senang menjadi putri kerajaan yang ceroboh dan bodoh ini. Aku
harus menaati aturan kerajaan, dan semua tindakan yang ku anggap benar selalu
salah di mata semua orang. Sedangkan engkau, masih bisa untuk terus tersenyum
manis dikelilingi bintang-bintang yang indah menari-nari.” Ucap Putri Arin
bergumam sendiri.
Putri Arin tidak
terlihat di tempat perendaman pemandian khusus tuan putri pagi ini. Sang
pelayan yang biasa mengurusi Putri Arin mencemaskan Putri Arin segera
mendatangi kamar Putri Arin. Terlihat Putri Arin masih tertidur pulas dengan
muka yang pucat. Jendela kamar terbuka lebar. Putri Arin sakit. Semalam ia
menghabiskan waktunya berbincang bincang dengan sang bulan sampai Putri Arin
tidak memperdulikan angin laut yang terus masuk ke dalam tubuhnya dan tubuhnya
yang membutuhkan waktu untuk istirahat. Putri Arin tertidur dalam tangisannya
dan terbangun saat terdengar lolongan sedih serigala. Putri Arin langsung
bergegas untuk tidur diatas kasurnya.
Mata arin terbuka saat aroma smelling salts begitu menyengat
di hidungnya. Ia melihat ayahnya saat membuka mata. Raja Esa Tri Akil sedang
memandangnya dengan tatapan kosong. Putri Arin menyesali matanya yang telah
terbuka, ia tahu pasti ayahnya menyempatkan datang menjenguk karena ia sangat
cemas dengannya. Meskipun begitu, Putri Arin tetap senang karena meskipun Putri
Arin tidak dekat kepada ayahnya, Putri Arin sangat merindukkan ayahnya tersebut
yang telah lama bekerja di istana memikirkan urusan semua umat di pulau
andromeda.
Tak lama setelah itu, sang Raja Esa ayahanda Putri Arin keluar dari
kamar Putri Arin tanpa mengucap sepatah katapun. Sudah biasa bagi Putri Arin
untuk menyikapi sikap dingin sang ayah. Ibunda Putri Arin datang bersama
pelayan dengan ramuan yang sudah di racik tabib kerajaan bersamaan dengan
keluarnya ayahanda Putri Arin saat itu.
Namun Putri Arin terkejut saat diantara pelayan terdapat gadis imut
kecil sepantarannya yang turut membantu membawakan ramuan-ramuan obat tersebut.
Putri Arin tersenyum tulus melihat gadis kecil itu. Putri Arin sangat penasaran
dengan gadis kecil tersebut, hingga Putri Arin langsung bertanya padanya.
“maukah kau berteman dengan ku?” dengan mata berkaca-kaca Putri Arin
mengucapkan. Putri Arin sangat membutuhkan seseorang yang mengerti dengannya dan
yang selalu ada bersama dengannya. Mungkin inilah kesempatan tersebut.
“baiklah. Aku Ananta” sambut gadis berambut pirang keriting menggemaskan
tersebut. Tanpa tunggu lama Putri Arin beranjak dari posisi berbaringnya dan
wajah Putri Arin berubah seketika. Wajah lemas sakitnya sudah menghilang
digantikan dengan keceriaannya memiliki teman baru bernama Ananta putri salah
satu pelayan kerajaan. Ratu Qonsie hanya
dapat menghembuskan nafas melihat putrinya yang seperti itu. Sembuh seketika
bahkan sebelum ramuan masuk ke dalam tubuhnya dan dapat berlompat-lompat
keriangan. Memang kebahagiaan dapat melawan sakit sesakit apapun itu.
Batin Ratu Qonsie teringat masa-masa sulit ia mzelahirkan putrinya.
“dasar putri yang payah, kau bahkan tidak menghargai racikan tabib
yang dibawakan ibumu.” Tegur sang ayah saat mereka berada di perhidangan meja
makan malam ini.
Putri Arin hanya terdiam dan mengeluh “mengapa harus meminum
racikan jika tanpa racikan aku dapat sembuh, huh?” gumam Putri Arin dalam
hati.
“Kau bahkan bermain tanpa perasaan bersalah bersama putri pelayan
yang tidak sesuai dengan peraturan.” Tegur Raja Esa Tri Akil kembali.
Putri Arin
hanya terus diam dan menahan air matanya yang meminta diloloskan tersebut. “bagaimana
mungkin aku tidak diperbolehkan bersama putri pelayan? Kau bahkan tidak mau
bermain bersamaku? Bahkan mendengar cerita-ceritaku saja kau tak mau ayah! Aku
memang putri mu yang payah. Aku memang tak seharusnya ditakdirkan menjadi putri
di kerajaan ini yang mematuhi semua peraturan. Aku benci terus seperti ini.”
Ujar kesedihan Putri Arin di dalam hatinya.
Putri Arin dan Ananta selalu bermain
bersama, tak peduli jika seisi kerajaan terus memandang tidak suka.
“Hei
Ananta, pulanglah. Ibu menyuruhmu pulang.” Ucap datar seorang lelaki bernama
Fisabil yang tiba-tiba datang menghampiri.
“tidak,
aku tidak mau kak. Aku ingin bermain.” Ananda membantah. “jadi kalian kakak
beradik rupanya.” Batin putri Arin.
“Pulanglah
Ananta, ibumu sudah menunggumu.” Putri Arin bersuara tanpa ekspresi.
Tahun ke tahun, pertemanan antara
Putri Arin dan Ananta semakin merenggang. Entah itu dikarenakan Fisabil,
kakaknya yang selalu membantu membatasi pertemanan mereka ataupun dikarenakan
usaha raja maupun ratu yang tidak memperkenankan Putri Arin berteman dengan
kaum tak setingkat yang dapat menyalahi aturan turun temurun kerajaan di pulau
Andromeda tersebut. Namun, setiap kali Putri Arin bertemu dengan Ananta, Ananta
mengatakan ibunya sedang sakit. Memang benar ibunya yang menjadi pelayan
tersebut sudah lama tidak terlhat oleh Putri Arin di kerajaan.
Malam yang indah dengan bulan sabit yang
menemani Putri Arin untuk kesekian kalinya. Semilir angin membuat Putri Arin
merasa semakin mengantuk hingga akhirnya Putri Arin tertidur. Namun ada hal
yang aneh saat lolongan sedih serigala yang sudah biasa terdengar oleh Putri
Arin mengisi malam. Terdapat suara aneh lainnya disaat bersamaan. “agh.
Tolong…” rintih suara seseorang datang dari arah hutan yang berada di kaki
pegunungan. Putri Arin segera terbangun dan merasa khawatir saat mendengar
suara yang tidak biasa tersebut.
Putri Arin merasa bingung oleh
perasaannya. Ia ingin membantu seseorang yang merintih meminta pertolongan
tersebut. Lagian siapa lagi ditengah malam begini yang dapat menolongnya
kecuali Putri Arin yang mendengar suara tersebut? Namun disisi lain Putri Arin
juga merasa sangat ketakutan. “tidak aku tidak takut, setidaknya diriku
berguna dalam hidup ini.” Putri Arin membatin.
Saat Putri Arin hendak mempersiakan
diri untuk mengendap-ngendap keluar dari kerajaan, seseorang lelaki muncul di
jendela kamar sang Putri Arin. Putri Arin menyipitkan matanya hendak mengenali
sosok yang muncul dari balik jendela tersebut. Fisabil! . Putri Arin tersentak
melihat Fisabil yang muncul dengan wajah pucat.
“apa
kau baik-baik saja?” tanya Putri Arin mencemaskan Fisabil di hadapannya.
“bagaimana mungkin aku baik-baik saja?” jawab Fisabil dengan wajah cakaran
binatang buas-serigala. Meskipun Putri Arin tidak menyukai Fisabil kakak dari
Ananta, namun Putri Arin tidak tega untuk tidak membantu seseorang yang
membutuhkan pertolongan. “tetaplah disana, aku akan menghampirimu.” Ujar Putri
Arin.
“tidak,
kau akan dilihat pengawal jika kau berusaha keluar.” Bantah Fisabil.
“lalu
untuk apa kau datang kemari? Bukankah kau membutuhkan pertolongan?” “Sebenarnya
seperti itu. Namun sekarang aku hanya membutuhkan seseorang yang mampu menjaga
kantung berisi jantung serigala ini.” Bisik Fisabil dengan suara yang sangat
kecil. Suasana semakin menegangkan. Siapa sebenarnya Fisabil? .
“kau
berbohong jika kantung ini berisi jantung serigala! Menyingkirlah dari kerajaan
ini!” usir Putri Arin dengan napas yang terengah-engah.
“baiklah
jika kau belum percaya kepadaku, aku beri tahu kepadamu. ibuku sakit parah
selama 10 tahun terakhir ini. Ananta dan aku sibuk mencari uang untuk dapat
membeli ramuan terbaik di pulau Andromeda ini. Namun aku tahu rahasia pulau
ini. Jantung dan roh serigala di dalam hutan di kaki gunung dapat mengatasi
segala macam penyakit yang diberikan oleh dewa pemberi cobaan. Dewa pemberi
cobaan hanya butuh kedua dari itu untuk dapat bersenang-senang kembali dan
mengabulkan permohonan dari roh orang yang berhasil menyajikannya kepada sang
dewa.” Papar Fisabil dengan serius. Meskipun Putri Arin telah mengetahui berita
tentang Dewa Pemberi Cobaan yang akan mengabulkan atas roh yang berhasil
membawakan jantung dan roh serigala, Putri Arin masih sulit menerima bahwa hal
itu benar-benar terjadi!
“mengapa
harus aku yang menyimpannya?” tanya Putri Arin dengan keringat dingin yang
sudah meluncur dari wajahnya.
“bukan
apa-apa. Aku tidak kenal orang lain selain dirimu. aku tahu kau dapat
dipercaya, untuk sekarang tugasku untuk menangkap roh serigala belum selesai.
Meskipun serigala yang telah kuambil jantungnya telah mati, aku dikejar oleh
kawanan lainnya dan roh dari serigala tersebut masih belum ku amankan dengan
ritual-ritualnya.”jelas Fisabil.
“aku
ikut. Akan kusimpan jantung serigalamu di tempat rahasiaku yang tidak ada satu
orangpun tahu.” Ujar Putri Arin dengan serius. “ikutlah jika itu maumu.”
Hujan turun dengan deras saat
Fisabil dan Putri Arin masuk ke dalam hutan lebat tempat serigala-serigala
berada. Fisabil bingung, bagaimana caranya agar Putri Arin yang keras kepala
ini sebaiknya mengurungkan niatnya untuk ikut bersama Fisabil mengikat roh
serigala. Akan sangat berbahaya apabila Putri Arin tidak sanggup melindungi
dirinya sendiri. Fisabil menyuruh Putri Arin untuk tetap waspada apabila ada
serigala yang lain menerkamnya. “tunggulah dibalik rerimbunan semak besar ini.
Aku akan berada disana.” Fisabil menunjuk tempat dimana serigala telah
terletak. Darah serigala tercampur oleh derasnya hujan. Putri Arin mendengar
dengan seksama ucapan lelaki itu dan mengangguk patuh. Ia segera bersembunyi di
balik semak yang tinggi-tinggi.
Fisabil melakukan ritual pengikatan
roh serigala dengan cepat. Telah banyak waktu yang dilewati Fisabil setelah
serigala terbunuh. Entah roh ini masih dapat diterima di sisi dewa pemberi
cobaaan ataupun tidak. Putri Arin takut. Ia takut mendengar semua mantra aneh
dan mengerikan yang dibacakan oleh Fisabil untuk mengikat roh serigala
tersebut.
Hal yang tidak diharapkan terjadi.
Kawanan serigala lain datang menuju tempat Fisabil melakukan pengikatan roh
sambal melolong kencang yang menyiratkan mereka tidak tega temannya
diperlakukan seperti itu. Putri Arin memejamkan matanya melihat semua kejadian
di depan matanya. Ia menganggap dirinya sekarang sedang bermimpi.
Putri Arin merasa pusing. Ia tidak
sanggup membuka kedua matanya. Kakinya terasa sakit, entah apa yang semalam
terjadi pada dirinya. Sayup-sayup Putri Arin mendengar suara seseorang. Suara
Fisabil bersama orang yang sepertinya Putri Arin kenal. Ya. Penasihat
ayahandanya. “mengapa tuan putri berada disini? Untung saja hanya luka
ringan dan demam ringan. Jika saja kau gagal melakukan misimu mungkin nasibmu
sudah tidak selamat di tangan sang Raja Esa Tri Akil.” Itulah perkataan
penasehat raja kepada Fisabil yang masih terngiang di kepala Putri Arin yang
sedang terbaring lemas di sebuah gubuk sekitar pinggir kawasan hutan semalam.
“Kunyahlah
daun ek ini. Kelak demammu kan lekas sembuh.” Ucap Fisabil tulus dengan
senyumnya.
“diamlah.
Aku tahu kau berbohong. Kau telah membohongiku..” ucap Putri Arin dengan suara
yang bergetar menahan isak tangis.
Inilah yang tidak akan pernah
diinginkan oleh Putri Arin. Kebohongan oleh orang yang berusaha ia cintai sejak
dahulu. Orang yang ia cintai sejak kecil meskipun mereka tidak pernah dekat. Saat
Putri Arin hanya mampu memandang Fisabil di rumahnya saat Putri Arin dan Ananta
sedang bermain bersama. Namun bukan alasan itu yang menjadi alasan kuat Putri
Arin menangis saat ini. Putri Arin tahu bahwa tidak mungkin ibu Ananta dan
Fisabil sakit keras begitu saja. Pasti ayahnya yang telah memberhentikannya dan
memanfaatkan keadaan dengan menyuruh Fisabil untuk melakukan ritual kepada dewa
pemberi cobaan. Karena itu semua Putri Arin kehilangan sahabat
terbaiknya-Ananta.
Pagi itu juga dengan sinar matahari
yang masuk dibalik dedaunan pohon-pohon tinggi, Putri Arin berlari masuk
kembali ke dalam hutan yang semalam telah berhasil ia masuki. Putri Arin terus
berlari. Berlari dan berlari, tidak peduli sesakit apa kaki seorang putri
sekarang. Aku bukanlah seorang putri kerajaan. Terlalu sakit hidup dalam
tekanan kerajaan. Putri Arin kini berlari sambal menangis terisak-isak. Putri
Arin tersungkur tersandung oleh akar-akar pohon yang menjalar dan bangkit
kembali untuk berlari. Kaki Putri Arin begitu sakit, ia merasa otot-otot
kakinya seperti sudah menonjol keluar dan ia merasa tulangnya seperti patah.
Entah sudah berapa jam lamanya Putri Arin berlari. Putri Arin tidak akan pernah
ingin kembali ke kerajaan yang tak pernah ia harapkan mengisi hidupnya. Hingga
Putri Arin tersungkur di sebuah cekungan di sekitar pohon beringin besar dan
jatuh pingsan.
Putri Arin terbangun. Gelap. Sangat
gelap. Dimana aku? Apakah aku sudah begitu jauh dari kerajaan? Apakah cukup
perlarianku untuk tidak dapat ditemukan oleh orang lain. Kuharap begitu.
Putri Arin melihat baying-bayang seorang datang mendekat dibawah sinar rembulan
dibalik pepohonan. Putri Arin begitu terkejut. Bagaimana mungkin?!?. Putri Arin
bersegera untuk bangkit dan ingin kembali berlari. Namun kakinya sudah cukup lemah
dan berada diambang kepatah tulangan. Seluruh badannya terasa remuk dan baju
gaun kerajaan yang ia gunakan sudah tidak jelas lagi warnanya dan robek
disana-sini. Putri Arin hanya bisa ketakutan meringkuk terbaring tetap di dalam
cekungan tempat ia tersungkur.
“siapa
kau?”
Putri
Arin terbelalak melihat seorang manusia yang seperti tak terurus di hadapannya.
Kupikir orang kerajaan. Namun siapa orang ini?
“siapa
kau? Mengapa kau memiliki bau roh serigala?”
“a-aku..
aku Arin. Hidupku begitu menyedihkan. Entahlah aku tak mengerti dengan ucapanmu
mengatakan aku berbau roh serigala” jelas Putri Arin dan menghembuskan napas
panjang menenangkan dirinya.
“ikut
aku” perintah seseorang tersebut. Putri Arin berusaha mati-matian untuk bangkit
berdiri. Namun Putri Arin sekarang justru berteriak kencang menahan betapa
sakit tubuhnya sekarang ini. Manusia tidak dikenal tersebut langsung
menggendong Putri Arin tanpa butuh waktu yang lama dan menerobos hutan dengan
cepat.
Mereka sampai di sebuah tempat yang
terlihat lebih rapih dari hutan di sekelilingnya. Namun Putri Arin terkejut
mengetahui ada beberapa serigala sedang asik bermain disana tanpa merasa
terganggu dengan kehadiran Putri Arin.
“Pasti
kau bingung. Kenalkan, aku Isa Tara-Tala. Aku bisa berbicara bahasa serigala
karena kau saudara serigala.” Isa Tara-Tala tersenyum menatap Putri Arin.
“aku
dibesarkan oleh para serigala. Induk Serigala menceritakan kepadaku bahwa aku
sejak bayi sudah di dalam hutan ini dan aku terpaksa menyusu kepada induk
serigala.”
Putri
Arin masih diam. Bingung dengan semua perkataan seseorang yang mengaku bernama
Isa Tara-Tala sebagai saudara serigala.
Hari berganti minggu. Minggu
berganti bulan. Dan bulan berganti tahun. Putri Arin akhirnya mendapatkan kawan
setia meskipun seorang saudara serigala. Mereka menghabiskan waktunya dengan
kebahagiaan. Bermain bersama bersama serigala lain. Mencari buruan mangsa hewan
untuk dimakan bersama. Bernyanyi bersama menghayalkan dunia lain. Tertawa
bersama. Begitu menyenangkan bagi Putri Arin telah mengenal sosok Isa Tara-Tala
saudara serigala di tengah entah berantah hutan yang tidak jelas. Hingga
akhirnya Isa Tara-Tala berjanji kepada Putri Arin. “Aku akan selalu
melindungimu. Aku akan selalu berada di dekatmu. Dan aku tidak akan pernah
hilang dari hatimu.” Itulah janji Isa Tara-Tala kepada Putri Arin.
“Tahukah kau? Induk serigala
menceritakan kepadaku bahwa kala itu kedua orang tuaku berlari dari kejaran
manusia jahat. Namun manusia jahat tersebut berhasil membunuh kedua orang tuaku
dan menghempaskanku di sekitar gerombolan para serigala. Para serigala tersebut
merasa prihatin melihatku yang menangis dalam diam dan memutuskan ku menjadikan
bagian dari mereka.” Cerita yang sangat berarti bagi Isa Tara-Tala telah ia
ceritakan pada sosok yang ia percaya dalam hidupnya.
Sore itu Putri Arin merasakan
perasaan yang tidak seperti baiasanya. Tidak menyenangkan. Semilir angina yang
seharusnya terasa nikmat, tidak bagi Putri Arin kala sore itu. Putri Arin
sedang menunggu binatang buruan yang telah ditangkap oleh Isa Tara-Tala untuk
mereka santap dan saat ini Isa Tara-Tala sedang mencari kayukayu bakar untuk
membakar binatang buruan tersebut.
Terdengar suara pacuan kaki-kaki
kuda dari arah hutan bagian lain. “Putri Arin!” teriak histeris Ratu Qonsie
yang berada di belakang tunggangan kuda tersebut. Putri Arin begitu tersentak
tidak menyangka. Ia bagaikan tersambar petir meski saat itu petir tidak
terlihat. Terlihat terdapat penunggang kuda lainnya turut datang bersama
ibundanya. Ayahanda-Fisabil-Penasehat Kerajaan-dan pengawal-pengawal kerajaan
yang lain serta tak terkecuali Ananta-teman yang pernah menjadi teman
terbaiknya itu. Putri Arin merasa begitu merindukan mereka semua meskipun di
sisi lain hati Putri Arin tidak menginginkannya.
Tanpa disangka para serigala
langsung melolong dan menyerbu pasukan kuda yang datang tersebut. Apa yang
terjadi? Isa Tara-Tala menyadari lolongan para saudaranya saat ia sedang
mengumpulkan kayu-kayu bakar. Ia mencemaskan Putri Arin untuk sekarang. Ia
tinggalkan kayu-kayu yang telah banyak ia kumpulkan dan segera berlari dengan
cepat.
Suara lolongan serigala semakin
ramai. Ramai sudah seluruh serigala di hutan berkumpul. Namun, bukan untuk
menyambut para penunggang kuda dari kerajaan. Mereka berkumpul karena salah
satu dari tetua serigala mengetahui mereka yang datang adalah masa lalu saudara
serigalanya. Isa Tara-Tala. Isa Tara-Tala muncul dengan berlari mendekat kepada
kerumunan serigala. Ia melihat Putri Arin sedang berbicara kepada para manusia
penunggang kuda yang datang yang sedang diteriaki oleh para serigala.
“Tara-Tala, pimpinan dari mereka adalah yang membunuh kedua orang tuamu dan
salah satu dari mereka telah membunuh saudaramu untuk diserahkan kepada dewa.”
Ujar tetua serigala dengan cepat saat Isa Tara-Tala terpaku melihat ini semua.
Namun, Isa Tara-Tala terpanah saat itu juga oleh Fisabil.
Putri Arin menjerit keras.
Kerumunan
serigala semakin mengamuk. Bagaimana mungkin saudara yang sangat mereka sayangi
sejak dahulu terbunuh. Kerumunan serigala segera menyerbu para orang-orang
kerajaan tersebut. Mereka semua mati. Mati dalam hal yang konyol.
Kaki Putri Arin terasa lemas. Tak
sanggup lagi ia berdiri. Air mata telah kering dari wajahnya. Sudah begitu lama
ia menangisi segalanya. Aku akan selalu melindungimu. Aku akan selalu berada
di dekatmu. Dan aku tidak akan pernah hilang dari hatimu. Putri Arin
teringat janji Isa Tara-Tala kepadanya. Ia harus kuat untuk saat ini. Meskipun
Isa Tara-Tala tidak di hadapannya untuk saat ini, ia tahu Isa Tara-Tala saat
ini berada di hatinya dan Putri Arin meyakini bahwa dirinya sedang berada di
dalam hati Isa Tara-Tala. Selalu bersama. Selamanya.
