jam

Senin, 06 Oktober 2025

HAST

 It’s been two weeks since you said you still stand by your words —that you won’t let love take part in your tough life. I know. But it still hurts, knowing you never saw me as a woman. That I never even crossed your mind. That I was never worth a place in your life.Damn, how foolish of me —to keep hoping I meant something to you, when I’ve always told myself how worthless I am.

Still, seeing the way you handled my confession — it made me wonder whether I’m truly that foolish, or maybe it’s just because I still admire that part of you. The part that’s so aware of the life you’re living, the way you take charge and stay consistent with your choices. That’s the part I’ve been missing in myself.
I should really learn from you.

I hope you’ll get the job you truly want, Hast.

Kamis, 25 September 2025

THERE'S NOTHING PERFECT FAMILY

Tumbuh dalam keluarga yang kerap berkonflik sedari kecil
sedangkan aku, anak plegmatis yang cinta damai
apakah kalian bisa membayangkan rasanya?

memiliki seorang kakak perempuan pertama yang sering meledak-ledak emosinya
tanpa menghiraukan batas hormat yang seharusnya ia berikan pada ibunya
pagi-pagi ini saja saat ibu hendak pergi bekerja, ia membuat gebrakan emosinya
meneriaki bahwa ibu tidak peduli, tidak sayang. ibu hanya sayang pada anaknya yang keempat itu. neraka pagi-pagi kesekian kali.

Kemarin pun begitu, ia juga membentak ibu pagi-pagi. lantaran ibu yang terlalu mencampuri urusan barang-barang yang hendak dibuangnya, katanya. Baiklah, memangnya harus dengan membentak-bentak? pada ibu yang sakit jiwa dan raganya? 

Belum lagi anehnya. Setelah dia meledak-ledakan amarahnya, dia bisa tersenyum dengan gigi berbehelnya seolah-olah semua baik-baik saja, tidak ada yang terjadi. Padahal sebagai anak plegmatis, baru saja terguncang (sampai-sampai menjadi drive untuk menulis ini semua: hasil dari energi guncangan tersebut) 

sebagai lulusan psikologi, jujur ini semua terasa menjadi beban yang tidak tanggung-tanggung. sering kali pikiran bahwa itu menjadi bagian tanggung jawabku juga terlintas. padahal tidak seharusnya. 

Rabu, 24 September 2025

output error ! ! ! too much and too hurt

 lah?

emang bener
gue ngilang juga lu ga bakal nyariin

mungkin emang dari cerita yang udah-udah, i saw the pattern
bahwa ada orang yang confess ke lu, dan lu fine2 aja dia pergi?
bahwa ada orang yang udah terlalu deket sama lu, tapi di satu titik lu ga ada topik apa pun?
dan lu rela cut-off dia?
bahwa ada orang yang ngejer-ngejer lu dan lu bilang bodoamat?

emang orang apatis kayak lu, apa yang bisa gue harapin dari menjalin hubungan?
(meskipun dalam konteks ini pertemanan)

lu bilang lu mengakui bahwa mungkin emang lu apatis
tapi lu masih ada empati dan simpati?

gue harap meski gue ga bisa liat yang wujudnya itu sama sekali
that i ever cross your mind!

mungkin..
mungkin aja..
ada kemungkinan bahwa emang OUTPUT ERROR dari semua interaksi ini
karena adanya masalah sama attachment gue, loneliness gue dan insecurity gue?

Ya, OUTPUT ERROR
karena seharusnya ga terjadi dan ada menurut akal orang sehat

output error.. 
nangis saat sadar lu ga pernah peduli dan kepo sama gue
sedih liat lu enggan ngobrol sama gue dibanding sama orang lain
penasaran kabar dan kondisi lu di saat lu gapernah peduli sama kabar gue
LU! LU! LU TERUS! alias mikirin lu 24/7!
ga bisa tidur sialan cuman gara-gara mikirin lu!
ambil nih waktu gue buat lu!
cemburu sialan ga berdasar
+ etc

output error ini membuat gue sering berpikir gue udah setergila-gila itu ya?

padahal lu ga worth it sama sekali👎







Jumat, 19 September 2025

CONFUSE.. SO I JUST WRITE IT DOWN!

 33x by perunggu-playing 

entah harus memulai darimana penulisan di blogspot ini setelah sekian abad sejak terakhir menulis disini..

tapi ini soal CONFUSING MY FUTURE 

i just spent more than 1 hour for searching information about aupair and ausbildung in germany. actually i had willing to go to germany since i was in shs. at that time i also wrote that i wanna continue my study in germany and take architecture major :"D. dreaming is free. but actualize it is really hard. believe that yourself can make it is the most difficult things. how silly i am to dream about that and noting action to make it happen. i remember clearly when my friends read my dream in my notesbook, they act like "whoaa", girls??it still be my dream. how can you guys act as you guys think that im cool?

back then to germany. i've strong admire to germany's architectual buildings. 

i just graduated from uni, took psychology.. and.. i dont know what to do rn fr. even applying for jobs doesnt seems interesting for me. can i have a job that relate to my major? can i? and if i can get the job which is related to my major, then, can i enjoying my job? being corporate employee x-x

i think for taking this decision, go to germany and taking aupair program is the best decision that i'll never regret. why? because im still young and dumb, hehe.

alexandra by hindia-playing

~jalanmu berat, seumur hidup.
semoga ada, bara yang tersisa~

btw sorry for my broken english writing skills, i love myself so im gonna improve soon. xoxo

Senin, 21 Oktober 2019

Janji Saudara Serigala dengan Sang Putri



Janji Saudara Serigala dengan Sang Putri
Hujan deras membasahi pulau Andromeda disusul dengan gemuruh petir yang bersahut-sahutan, terpaan ombak begitu besar hingga melamun kayu-kayu di pesisir. Malam yang penuh dengan kekhawatiran di sebuah kerajaan yang berdiri gagah di pesisir pulau Andromeda. Ratu Qonsie sedang melahirkan anak yang sudah ia kandung dengan susah payah 10 bulan lamanya. Namun, di suituasi genting seperti ini, Raja Esa Tri Akil tidak ditemukan di seisi istana dan kerajaan.
Putri Arin sedang merenungi kesalahan yang baru saja ia perbuat di kerajaan. Ia duduk diatas rerumputan taman kerajaan dengan menekukkan kedua kakinya. Kulit kucing si hutam Putpus ibundanya(Ratu Qonsie) melepuh, siapa lagi jika bukan karena Putri Arin telah berulah kembali.
Putri kecil berumur 9 tahun itu sedang memegang segelas susu panas ketika bermain bersama Putpus, kucing kesayangan ibundanya. Putri Arin gemas dengan buntut si hitam Putpus dan menekan buntut tersebut dalam genggamannya dengan sekuat tenaga, secara spontan Putpus marah dan meloncat ke arah Putri Arin hingga segelas susu panas terlepas dari genggamannya dan membasahi si Putpus. Kulit Putpus melepuh dan menyisakan ruam-ruam merah dan sisi lain pipi putih mulus putri Arin memiliki corak cakaran si Putpus. Habis sudah pertemanan baik antara Putri Arin dan si Hitam Putpus yang telah melepuh kulitnya serta tak luput semburan ocehan ibundanya akan Putri Arin terima tidak lama lagi.
Diocehin ibu lagi, diocehin ibu lagi… Putri Arin mengumpat di dalam hatinya. Mengapa setiap tindakanku selalu salah? Aku memang anak sial. Ayahanda tak pernah mau mendengarkan aduhan tangisanku, harus kepada siapa kutumpahkan kesedihanku ini?... Ujar kesedihan Putri Arin di dalam hatinya.
Putri Arin berjalan lemas tanpa semangat di sepanjang pelataran kerajaan. Dbuk! Putri Arin terjatuh bersama seorang anak lelaki sepantran Putri Arin sedikit lebih tua dibandingnya. “Kau tak mengapa tuan putri ?” tanya lelaki itu. Namun Putri Arin tetap diam tak menjawab lelaki tak dikenal di hadapannya.
 “Maafkan aku tuan putri, saya Fisabil putra pelayan di kerajaan ini. Jika tuan putri berkenan saya akan urusi luka lecet tuan putri.” Ujar lelaki itu kembali. “cih lecet kau bilang? Ini tak ada apa-apanya bagiku.” (ujar Putri Arin yang sedang sedih dengan hidupnya di dalam hati.)
“baiklah kalau seperti itu tuan putri. Sa- saya undur diri.” Ujar lelaki itu kembali untuk yang ketiga kalinya atas Tuan Putri Arin yang terus diam.

Malam ini udara yang masuk melalui jendela kamar Putri Arin sangat menusuk kulit Putri Arin. Putri Arin memandang ke arah bulan sabit yang sedang tersenyum indah kepadanya dengan mata yang sendu. “Andai aku menjadi sepertimu saja bulan, aku tidak senang menjadi putri kerajaan yang ceroboh dan bodoh ini. Aku harus menaati aturan kerajaan, dan semua tindakan yang ku anggap benar selalu salah di mata semua orang. Sedangkan engkau, masih bisa untuk terus tersenyum manis dikelilingi bintang-bintang yang indah menari-nari.” Ucap Putri Arin bergumam sendiri.

                          Putri Arin tidak terlihat di tempat perendaman pemandian khusus tuan putri pagi ini. Sang pelayan yang biasa mengurusi Putri Arin mencemaskan Putri Arin segera mendatangi kamar Putri Arin. Terlihat Putri Arin masih tertidur pulas dengan muka yang pucat. Jendela kamar terbuka lebar. Putri Arin sakit. Semalam ia menghabiskan waktunya berbincang bincang dengan sang bulan sampai Putri Arin tidak memperdulikan angin laut yang terus masuk ke dalam tubuhnya dan tubuhnya yang membutuhkan waktu untuk istirahat. Putri Arin tertidur dalam tangisannya dan terbangun saat terdengar lolongan sedih serigala. Putri Arin langsung bergegas untuk tidur diatas kasurnya.
Mata arin terbuka saat aroma smelling salts begitu menyengat di hidungnya. Ia melihat ayahnya saat membuka mata. Raja Esa Tri Akil sedang memandangnya dengan tatapan kosong. Putri Arin menyesali matanya yang telah terbuka, ia tahu pasti ayahnya menyempatkan datang menjenguk karena ia sangat cemas dengannya. Meskipun begitu, Putri Arin tetap senang karena meskipun Putri Arin tidak dekat kepada ayahnya, Putri Arin sangat merindukkan ayahnya tersebut yang telah lama bekerja di istana memikirkan urusan semua umat di pulau andromeda.
Tak lama setelah itu, sang Raja Esa ayahanda Putri Arin keluar dari kamar Putri Arin tanpa mengucap sepatah katapun. Sudah biasa bagi Putri Arin untuk menyikapi sikap dingin sang ayah. Ibunda Putri Arin datang bersama pelayan dengan ramuan yang sudah di racik tabib kerajaan bersamaan dengan keluarnya ayahanda Putri Arin saat itu.
Namun Putri Arin terkejut saat diantara pelayan terdapat gadis imut kecil sepantarannya yang turut membantu membawakan ramuan-ramuan obat tersebut. Putri Arin tersenyum tulus melihat gadis kecil itu. Putri Arin sangat penasaran dengan gadis kecil tersebut, hingga Putri Arin langsung bertanya padanya. “maukah kau berteman dengan ku?” dengan mata berkaca-kaca Putri Arin mengucapkan. Putri Arin sangat membutuhkan seseorang yang mengerti dengannya dan yang selalu ada bersama dengannya. Mungkin inilah kesempatan tersebut. “baiklah. Aku Ananta” sambut gadis berambut pirang keriting menggemaskan tersebut. Tanpa tunggu lama Putri Arin beranjak dari posisi berbaringnya dan wajah Putri Arin berubah seketika. Wajah lemas sakitnya sudah menghilang digantikan dengan keceriaannya memiliki teman baru bernama Ananta putri salah satu  pelayan kerajaan. Ratu Qonsie hanya dapat menghembuskan nafas melihat putrinya yang seperti itu. Sembuh seketika bahkan sebelum ramuan masuk ke dalam tubuhnya dan dapat berlompat-lompat keriangan. Memang kebahagiaan dapat melawan sakit sesakit apapun itu. Batin Ratu Qonsie teringat masa-masa sulit ia mzelahirkan putrinya.
“dasar putri yang payah, kau bahkan tidak menghargai racikan tabib yang dibawakan ibumu.” Tegur sang ayah saat mereka berada di perhidangan meja makan malam ini.
Putri Arin hanya terdiam dan mengeluh “mengapa harus meminum racikan jika tanpa racikan aku dapat sembuh, huh?” gumam Putri Arin dalam hati.
“Kau bahkan bermain tanpa perasaan bersalah bersama putri pelayan yang tidak sesuai dengan peraturan.” Tegur Raja Esa Tri Akil kembali.
Putri Arin hanya terus diam dan menahan air matanya yang meminta diloloskan tersebut. “bagaimana mungkin aku tidak diperbolehkan bersama putri pelayan? Kau bahkan tidak mau bermain bersamaku? Bahkan mendengar cerita-ceritaku saja kau tak mau ayah! Aku memang putri mu yang payah. Aku memang tak seharusnya ditakdirkan menjadi putri di kerajaan ini yang mematuhi semua peraturan. Aku benci terus seperti ini.” Ujar kesedihan Putri Arin di dalam hatinya.
  
            Putri Arin dan Ananta selalu bermain bersama, tak peduli jika seisi kerajaan terus memandang tidak suka.
“Hei Ananta, pulanglah. Ibu menyuruhmu pulang.” Ucap datar seorang lelaki bernama Fisabil yang tiba-tiba datang menghampiri.
“tidak, aku tidak mau kak. Aku ingin bermain.” Ananda membantah. “jadi kalian kakak beradik rupanya.” Batin putri Arin.
“Pulanglah Ananta, ibumu sudah menunggumu.” Putri Arin bersuara tanpa ekspresi.

            Tahun ke tahun, pertemanan antara Putri Arin dan Ananta semakin merenggang. Entah itu dikarenakan Fisabil, kakaknya yang selalu membantu membatasi pertemanan mereka ataupun dikarenakan usaha raja maupun ratu yang tidak memperkenankan Putri Arin berteman dengan kaum tak setingkat yang dapat menyalahi aturan turun temurun kerajaan di pulau Andromeda tersebut. Namun, setiap kali Putri Arin bertemu dengan Ananta, Ananta mengatakan ibunya sedang sakit. Memang benar ibunya yang menjadi pelayan tersebut sudah lama tidak terlhat oleh Putri Arin di kerajaan.
             Malam yang indah dengan bulan sabit yang menemani Putri Arin untuk kesekian kalinya. Semilir angin membuat Putri Arin merasa semakin mengantuk hingga akhirnya Putri Arin tertidur. Namun ada hal yang aneh saat lolongan sedih serigala yang sudah biasa terdengar oleh Putri Arin mengisi malam. Terdapat suara aneh lainnya disaat bersamaan. “agh. Tolong…” rintih suara seseorang datang dari arah hutan yang berada di kaki pegunungan. Putri Arin segera terbangun dan merasa khawatir saat mendengar suara yang tidak biasa tersebut.
            Putri Arin merasa bingung oleh perasaannya. Ia ingin membantu seseorang yang merintih meminta pertolongan tersebut. Lagian siapa lagi ditengah malam begini yang dapat menolongnya kecuali Putri Arin yang mendengar suara tersebut? Namun disisi lain Putri Arin juga merasa sangat ketakutan. “tidak aku tidak takut, setidaknya diriku berguna dalam hidup ini.” Putri Arin membatin.
            Saat Putri Arin hendak mempersiakan diri untuk mengendap-ngendap keluar dari kerajaan, seseorang lelaki muncul di jendela kamar sang Putri Arin. Putri Arin menyipitkan matanya hendak mengenali sosok yang muncul dari balik jendela tersebut. Fisabil! . Putri Arin tersentak melihat Fisabil yang muncul dengan wajah pucat.
“apa kau baik-baik saja?” tanya Putri Arin mencemaskan Fisabil di hadapannya. “bagaimana mungkin aku baik-baik saja?” jawab Fisabil dengan wajah cakaran binatang buas-serigala. Meskipun Putri Arin tidak menyukai Fisabil kakak dari Ananta, namun Putri Arin tidak tega untuk tidak membantu seseorang yang membutuhkan pertolongan. “tetaplah disana, aku akan menghampirimu.” Ujar Putri Arin.
“tidak, kau akan dilihat pengawal jika kau berusaha keluar.” Bantah Fisabil.
“lalu untuk apa kau datang kemari? Bukankah kau membutuhkan pertolongan?” “Sebenarnya seperti itu. Namun sekarang aku hanya membutuhkan seseorang yang mampu menjaga kantung berisi jantung serigala ini.” Bisik Fisabil dengan suara yang sangat kecil. Suasana semakin menegangkan. Siapa sebenarnya Fisabil? .
“kau berbohong jika kantung ini berisi jantung serigala! Menyingkirlah dari kerajaan ini!” usir Putri Arin dengan napas yang terengah-engah.
“baiklah jika kau belum percaya kepadaku, aku beri tahu kepadamu. ibuku sakit parah selama 10 tahun terakhir ini. Ananta dan aku sibuk mencari uang untuk dapat membeli ramuan terbaik di pulau Andromeda ini. Namun aku tahu rahasia pulau ini. Jantung dan roh serigala di dalam hutan di kaki gunung dapat mengatasi segala macam penyakit yang diberikan oleh dewa pemberi cobaan. Dewa pemberi cobaan hanya butuh kedua dari itu untuk dapat bersenang-senang kembali dan mengabulkan permohonan dari roh orang yang berhasil menyajikannya kepada sang dewa.” Papar Fisabil dengan serius. Meskipun Putri Arin telah mengetahui berita tentang Dewa Pemberi Cobaan yang akan mengabulkan atas roh yang berhasil membawakan jantung dan roh serigala, Putri Arin masih sulit menerima bahwa hal itu benar-benar terjadi!
“mengapa harus aku yang menyimpannya?” tanya Putri Arin dengan keringat dingin yang sudah meluncur dari wajahnya.
“bukan apa-apa. Aku tidak kenal orang lain selain dirimu. aku tahu kau dapat dipercaya, untuk sekarang tugasku untuk menangkap roh serigala belum selesai. Meskipun serigala yang telah kuambil jantungnya telah mati, aku dikejar oleh kawanan lainnya dan roh dari serigala tersebut masih belum ku amankan dengan ritual-ritualnya.”jelas Fisabil.
“aku ikut. Akan kusimpan jantung serigalamu di tempat rahasiaku yang tidak ada satu orangpun tahu.” Ujar Putri Arin dengan serius. “ikutlah jika itu maumu.”
          
            Hujan turun dengan deras saat Fisabil dan Putri Arin masuk ke dalam hutan lebat tempat serigala-serigala berada. Fisabil bingung, bagaimana caranya agar Putri Arin yang keras kepala ini sebaiknya mengurungkan niatnya untuk ikut bersama Fisabil mengikat roh serigala. Akan sangat berbahaya apabila Putri Arin tidak sanggup melindungi dirinya sendiri. Fisabil menyuruh Putri Arin untuk tetap waspada apabila ada serigala yang lain menerkamnya. “tunggulah dibalik rerimbunan semak besar ini. Aku akan berada disana.” Fisabil menunjuk tempat dimana serigala telah terletak. Darah serigala tercampur oleh derasnya hujan. Putri Arin mendengar dengan seksama ucapan lelaki itu dan mengangguk patuh. Ia segera bersembunyi di balik semak yang tinggi-tinggi.

            Fisabil melakukan ritual pengikatan roh serigala dengan cepat. Telah banyak waktu yang dilewati Fisabil setelah serigala terbunuh. Entah roh ini masih dapat diterima di sisi dewa pemberi cobaaan ataupun tidak. Putri Arin takut. Ia takut mendengar semua mantra aneh dan mengerikan yang dibacakan oleh Fisabil untuk mengikat roh serigala tersebut.
            Hal yang tidak diharapkan terjadi. Kawanan serigala lain datang menuju tempat Fisabil melakukan pengikatan roh sambal melolong kencang yang menyiratkan mereka tidak tega temannya diperlakukan seperti itu. Putri Arin memejamkan matanya melihat semua kejadian di depan matanya. Ia menganggap dirinya sekarang sedang bermimpi.
            Putri Arin merasa pusing. Ia tidak sanggup membuka kedua matanya. Kakinya terasa sakit, entah apa yang semalam terjadi pada dirinya. Sayup-sayup Putri Arin mendengar suara seseorang. Suara Fisabil bersama orang yang sepertinya Putri Arin kenal. Ya. Penasihat ayahandanya. “mengapa tuan putri berada disini? Untung saja hanya luka ringan dan demam ringan. Jika saja kau gagal melakukan misimu mungkin nasibmu sudah tidak selamat di tangan sang Raja Esa Tri Akil.” Itulah perkataan penasehat raja kepada Fisabil yang masih terngiang di kepala Putri Arin yang sedang terbaring lemas di sebuah gubuk sekitar pinggir kawasan hutan semalam.
“Kunyahlah daun ek ini. Kelak demammu kan lekas sembuh.” Ucap Fisabil tulus dengan senyumnya.
“diamlah. Aku tahu kau berbohong. Kau telah membohongiku..” ucap Putri Arin dengan suara yang bergetar menahan isak tangis.
            Inilah yang tidak akan pernah diinginkan oleh Putri Arin. Kebohongan oleh orang yang berusaha ia cintai sejak dahulu. Orang yang ia cintai sejak kecil meskipun mereka tidak pernah dekat. Saat Putri Arin hanya mampu memandang Fisabil di rumahnya saat Putri Arin dan Ananta sedang bermain bersama. Namun bukan alasan itu yang menjadi alasan kuat Putri Arin menangis saat ini. Putri Arin tahu bahwa tidak mungkin ibu Ananta dan Fisabil sakit keras begitu saja. Pasti ayahnya yang telah memberhentikannya dan memanfaatkan keadaan dengan menyuruh Fisabil untuk melakukan ritual kepada dewa pemberi cobaan. Karena itu semua Putri Arin kehilangan sahabat terbaiknya-Ananta.
            Pagi itu juga dengan sinar matahari yang masuk dibalik dedaunan pohon-pohon tinggi, Putri Arin berlari masuk kembali ke dalam hutan yang semalam telah berhasil ia masuki. Putri Arin terus berlari. Berlari dan berlari, tidak peduli sesakit apa kaki seorang putri sekarang. Aku bukanlah seorang putri kerajaan. Terlalu sakit hidup dalam tekanan kerajaan. Putri Arin kini berlari sambal menangis terisak-isak. Putri Arin tersungkur tersandung oleh akar-akar pohon yang menjalar dan bangkit kembali untuk berlari. Kaki Putri Arin begitu sakit, ia merasa otot-otot kakinya seperti sudah menonjol keluar dan ia merasa tulangnya seperti patah. Entah sudah berapa jam lamanya Putri Arin berlari. Putri Arin tidak akan pernah ingin kembali ke kerajaan yang tak pernah ia harapkan mengisi hidupnya. Hingga Putri Arin tersungkur di sebuah cekungan di sekitar pohon beringin besar dan jatuh pingsan.
            Putri Arin terbangun. Gelap. Sangat gelap. Dimana aku? Apakah aku sudah begitu jauh dari kerajaan? Apakah cukup perlarianku untuk tidak dapat ditemukan oleh orang lain. Kuharap begitu. Putri Arin melihat baying-bayang seorang datang mendekat dibawah sinar rembulan dibalik pepohonan. Putri Arin begitu terkejut. Bagaimana mungkin?!?. Putri Arin bersegera untuk bangkit dan ingin kembali berlari. Namun kakinya sudah cukup lemah dan berada diambang kepatah tulangan. Seluruh badannya terasa remuk dan baju gaun kerajaan yang ia gunakan sudah tidak jelas lagi warnanya dan robek disana-sini. Putri Arin hanya bisa ketakutan meringkuk terbaring tetap di dalam cekungan tempat ia tersungkur.
“siapa kau?”
Putri Arin terbelalak melihat seorang manusia yang seperti tak terurus di hadapannya. Kupikir orang kerajaan. Namun siapa orang ini?
“siapa kau? Mengapa kau memiliki bau roh serigala?”
“a-aku.. aku Arin. Hidupku begitu menyedihkan. Entahlah aku tak mengerti dengan ucapanmu mengatakan aku berbau roh serigala” jelas Putri Arin dan menghembuskan napas panjang menenangkan dirinya.
“ikut aku” perintah seseorang tersebut. Putri Arin berusaha mati-matian untuk bangkit berdiri. Namun Putri Arin sekarang justru berteriak kencang menahan betapa sakit tubuhnya sekarang ini. Manusia tidak dikenal tersebut langsung menggendong Putri Arin tanpa butuh waktu yang lama dan menerobos hutan dengan cepat.
            Mereka sampai di sebuah tempat yang terlihat lebih rapih dari hutan di sekelilingnya. Namun Putri Arin terkejut mengetahui ada beberapa serigala sedang asik bermain disana tanpa merasa terganggu dengan kehadiran Putri Arin.
“Pasti kau bingung. Kenalkan, aku Isa Tara-Tala. Aku bisa berbicara bahasa serigala karena kau saudara serigala.” Isa Tara-Tala tersenyum menatap Putri Arin.
“aku dibesarkan oleh para serigala. Induk Serigala menceritakan kepadaku bahwa aku sejak bayi sudah di dalam hutan ini dan aku terpaksa menyusu kepada induk serigala.”
Putri Arin masih diam. Bingung dengan semua perkataan seseorang yang mengaku bernama Isa Tara-Tala sebagai saudara serigala.

            Hari berganti minggu. Minggu berganti bulan. Dan bulan berganti tahun. Putri Arin akhirnya mendapatkan kawan setia meskipun seorang saudara serigala. Mereka menghabiskan waktunya dengan kebahagiaan. Bermain bersama bersama serigala lain. Mencari buruan mangsa hewan untuk dimakan bersama. Bernyanyi bersama menghayalkan dunia lain. Tertawa bersama. Begitu menyenangkan bagi Putri Arin telah mengenal sosok Isa Tara-Tala saudara serigala di tengah entah berantah hutan yang tidak jelas. Hingga akhirnya Isa Tara-Tala berjanji kepada Putri Arin. “Aku akan selalu melindungimu. Aku akan selalu berada di dekatmu. Dan aku tidak akan pernah hilang dari hatimu.” Itulah janji Isa Tara-Tala kepada Putri Arin.

            “Tahukah kau? Induk serigala menceritakan kepadaku bahwa kala itu kedua orang tuaku berlari dari kejaran manusia jahat. Namun manusia jahat tersebut berhasil membunuh kedua orang tuaku dan menghempaskanku di sekitar gerombolan para serigala. Para serigala tersebut merasa prihatin melihatku yang menangis dalam diam dan memutuskan ku menjadikan bagian dari mereka.” Cerita yang sangat berarti bagi Isa Tara-Tala telah ia ceritakan pada sosok yang ia percaya dalam hidupnya.

            Sore itu Putri Arin merasakan perasaan yang tidak seperti baiasanya. Tidak menyenangkan. Semilir angina yang seharusnya terasa nikmat, tidak bagi Putri Arin kala sore itu. Putri Arin sedang menunggu binatang buruan yang telah ditangkap oleh Isa Tara-Tala untuk mereka santap dan saat ini Isa Tara-Tala sedang mencari kayukayu bakar untuk membakar binatang buruan tersebut.

            Terdengar suara pacuan kaki-kaki kuda dari arah hutan bagian lain. “Putri Arin!” teriak histeris Ratu Qonsie yang berada di belakang tunggangan kuda tersebut. Putri Arin begitu tersentak tidak menyangka. Ia bagaikan tersambar petir meski saat itu petir tidak terlihat. Terlihat terdapat penunggang kuda lainnya turut datang bersama ibundanya. Ayahanda-Fisabil-Penasehat Kerajaan-dan pengawal-pengawal kerajaan yang lain serta tak terkecuali Ananta-teman yang pernah menjadi teman terbaiknya itu. Putri Arin merasa begitu merindukan mereka semua meskipun di sisi lain hati Putri Arin tidak menginginkannya.

            Tanpa disangka para serigala langsung melolong dan menyerbu pasukan kuda yang datang tersebut. Apa yang terjadi? Isa Tara-Tala menyadari lolongan para saudaranya saat ia sedang mengumpulkan kayu-kayu bakar. Ia mencemaskan Putri Arin untuk sekarang. Ia tinggalkan kayu-kayu yang telah banyak ia kumpulkan dan segera berlari dengan cepat.

            Suara lolongan serigala semakin ramai. Ramai sudah seluruh serigala di hutan berkumpul. Namun, bukan untuk menyambut para penunggang kuda dari kerajaan. Mereka berkumpul karena salah satu dari tetua serigala mengetahui mereka yang datang adalah masa lalu saudara serigalanya. Isa Tara-Tala. Isa Tara-Tala muncul dengan berlari mendekat kepada kerumunan serigala. Ia melihat Putri Arin sedang berbicara kepada para manusia penunggang kuda yang datang yang sedang diteriaki oleh para serigala. “Tara-Tala, pimpinan dari mereka adalah yang membunuh kedua orang tuamu dan salah satu dari mereka telah membunuh saudaramu untuk diserahkan kepada dewa.” Ujar tetua serigala dengan cepat saat Isa Tara-Tala terpaku melihat ini semua. Namun, Isa Tara-Tala terpanah saat itu juga oleh Fisabil.
            Putri Arin menjerit keras.
Kerumunan serigala semakin mengamuk. Bagaimana mungkin saudara yang sangat mereka sayangi sejak dahulu terbunuh. Kerumunan serigala segera menyerbu para orang-orang kerajaan tersebut. Mereka semua mati. Mati dalam hal yang konyol.

            Kaki Putri Arin terasa lemas. Tak sanggup lagi ia berdiri. Air mata telah kering dari wajahnya. Sudah begitu lama ia menangisi segalanya. Aku akan selalu melindungimu. Aku akan selalu berada di dekatmu. Dan aku tidak akan pernah hilang dari hatimu. Putri Arin teringat janji Isa Tara-Tala kepadanya. Ia harus kuat untuk saat ini. Meskipun Isa Tara-Tala tidak di hadapannya untuk saat ini, ia tahu Isa Tara-Tala saat ini berada di hatinya dan Putri Arin meyakini bahwa dirinya sedang berada di dalam hati Isa Tara-Tala. Selalu bersama. Selamanya.