sedangkan aku, anak plegmatis yang cinta damai
apakah kalian bisa membayangkan rasanya?
memiliki seorang kakak perempuan pertama yang sering meledak-ledak emosinya
tanpa menghiraukan batas hormat yang seharusnya ia berikan pada ibunya
pagi-pagi ini saja saat ibu hendak pergi bekerja, ia membuat gebrakan emosinya
meneriaki bahwa ibu tidak peduli, tidak sayang. ibu hanya sayang pada anaknya yang keempat itu. neraka pagi-pagi kesekian kali.
Kemarin pun begitu, ia juga membentak ibu pagi-pagi. lantaran ibu yang terlalu mencampuri urusan barang-barang yang hendak dibuangnya, katanya. Baiklah, memangnya harus dengan membentak-bentak? pada ibu yang sakit jiwa dan raganya?
Belum lagi anehnya. Setelah dia meledak-ledakan amarahnya, dia bisa tersenyum dengan gigi berbehelnya seolah-olah semua baik-baik saja, tidak ada yang terjadi. Padahal sebagai anak plegmatis, baru saja terguncang (sampai-sampai menjadi drive untuk menulis ini semua: hasil dari energi guncangan tersebut)
sebagai lulusan psikologi, jujur ini semua terasa menjadi beban yang tidak tanggung-tanggung. sering kali pikiran bahwa itu menjadi bagian tanggung jawabku juga terlintas. padahal tidak seharusnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar