jam

Kamis, 25 September 2025

THERE'S NOTHING PERFECT FAMILY

Tumbuh dalam keluarga yang kerap berkonflik sedari kecil
sedangkan aku, anak plegmatis yang cinta damai
apakah kalian bisa membayangkan rasanya?

memiliki seorang kakak perempuan pertama yang sering meledak-ledak emosinya
tanpa menghiraukan batas hormat yang seharusnya ia berikan pada ibunya
pagi-pagi ini saja saat ibu hendak pergi bekerja, ia membuat gebrakan emosinya
meneriaki bahwa ibu tidak peduli, tidak sayang. ibu hanya sayang pada anaknya yang keempat itu. neraka pagi-pagi kesekian kali.

Kemarin pun begitu, ia juga membentak ibu pagi-pagi. lantaran ibu yang terlalu mencampuri urusan barang-barang yang hendak dibuangnya, katanya. Baiklah, memangnya harus dengan membentak-bentak? pada ibu yang sakit jiwa dan raganya? 

Belum lagi anehnya. Setelah dia meledak-ledakan amarahnya, dia bisa tersenyum dengan gigi berbehelnya seolah-olah semua baik-baik saja, tidak ada yang terjadi. Padahal sebagai anak plegmatis, baru saja terguncang (sampai-sampai menjadi drive untuk menulis ini semua: hasil dari energi guncangan tersebut) 

sebagai lulusan psikologi, jujur ini semua terasa menjadi beban yang tidak tanggung-tanggung. sering kali pikiran bahwa itu menjadi bagian tanggung jawabku juga terlintas. padahal tidak seharusnya. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar